PWNA Jawa Timur Gelar Webinar Mindful Parenting, Ajak Orang Tua Hadir Sepenuhnya untuk Anak

Tangkapan layar Webinar Mindful Parenting PWNA Jawa Timur, Ahad (24/5/2026) 

nasyiahjatim.or.id
—Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur melalui Departemen Pendidikan dan Penelitian kembali menghadirkan kegiatan inspiratif melalui Webinar Parenting bertema “Mindful Parenting: Menjadi Orang Tua yang Hadir Sepenuhnya di Tengah Kesibukan.” pada Ahad (24/5/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Widji Lestari, Pimpinan Lembaga Pendidikan Inklusi Az Zahrah sebagai narasumber utama dan dimoderatori oleh Nurul Mawaridah, Anggota PWNA Jawa Timur.

Webinar yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 tersebut diikuti oleh sekitar 60 peserta yang antusias belajar tentang pola pengasuhan yang lebih sadar, hangat, dan penuh perhatian di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika kesibukan sering kali membuat interaksi emosional antara orang tua dan anak menjadi semakin terbatas.

Dalam pembukaannya, Nurul Mawaridah menyampaikan refleksi mendalam mengenai pentingnya kehadiran emosional orang tua bagi anak. “Sesibuk apa pun hari ini, jangan sampai anak hanya mengenal punggung kita yang terus berlari mengejar waktu. Karena bagi mereka, pelukan hangat dan perhatian sederhana sering kali lebih berarti daripada apa pun yang bisa kita berikan,” ungkapnya.

Suasana webinar berlangsung hangat dan penuh antusiasme sejak awal kegiatan. Narasumber Widji Lestari menjelaskan bahwa mindful parenting bukan berarti menjadi orang tua yang sempurna, melainkan menjadi orang tua yang benar-benar hadir secara utuh saat bersama anak. Menurutnya, anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang, tetapi membutuhkan perhatian yang tulus dan hubungan emosional yang sehat.

Dalam sesi materi, Widji Lestari memaparkan tiga prinsip utama dalam mindful parenting. Prinsip pertama adalah listening with full attention, yaitu mendengarkan anak dengan perhatian penuh tanpa terganggu oleh gawai atau pekerjaan lain.

Kedua, non-judgmental acceptance, yakni menerima cerita dan emosi anak tanpa langsung menghakimi atau menyalahkan. Ketiga, emotional awareness, yaitu kemampuan orang tua menyadari dan mengelola emosinya sendiri sebelum merespons perilaku anak.

Selain membahas konsep dasar, webinar juga menghadirkan berbagai tips praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah tentang “kuantitas versus kualitas.” Orang tua diajak memahami bahwa kebersamaan yang berkualitas jauh lebih berarti dibandingkan sekadar waktu yang lama namun tanpa keterhubungan emosional.

Narasumber juga memperkenalkan the power of gaze, yakni kekuatan tatapan hangat saat anak berbicara. Kontak mata sederhana ternyata mampu membuat anak merasa dihargai, didengarkan, dan dicintai. Selain itu, kebiasaan bedtime story atau membacakan cerita sebelum tidur juga disarankan sebagai cara membangun kedekatan emosional sekaligus menanamkan nilai-nilai positif kepada anak.

Salah satu teknik yang paling menarik perhatian peserta adalah teknik “jeda 3 detik.” Teknik ini mengajarkan orang tua untuk berhenti sejenak selama tiga detik sebelum marah atau merespons perilaku anak. Dengan jeda sederhana tersebut, orang tua dapat lebih tenang dan bijaksana dalam mengambil keputusan maupun memberikan respons kepada anak.

Peserta webinar tampak aktif mengikuti jalannya kegiatan. Banyak di antara mereka membagikan pengalaman pengasuhan dan tantangan mendidik anak di era digital. Diskusi berlangsung interaktif dan penuh refleksi, terutama ketika membahas bagaimana anak-anak sebenarnya lebih membutuhkan kehadiran emosional dibandingkan materi semata.

Melalui webinar ini, PWNA Jawa Timur berharap para orang tua dan pendidik semakin memahami bahwa perhatian kecil hari ini dapat menjadi kenangan besar bagi anak di masa depan. Kehadiran yang utuh, pelukan hangat, serta kemampuan mendengarkan dengan hati menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga yang sehat dan harmonis.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dan tuntutan hidup, kasih sayang yang tulus tetap menjadi kebutuhan utama bagi setiap anak untuk tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan penuh cinta.

Hervina Emzulia