![]() |
| Peserta Bimtek Fasilitator BRUS Angkatan III |
nasyiahjatim.or.id—Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur kembali menunjukkan kiprahnya dalam penguatan dakwah dan pemberdayaan generasi muda. Dua kader terbaiknya, yakni Wakil Ketua PWNA Jawa Timur Erfin Walida Rahmania dan Anggota Departemen Dakwah Sa’idah Fiddaroini, resmi tersertifikasi sebagai Fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) Kementerian Agama Republik Indonesia.
Keduanya berhasil menyelesaikan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator BRUS Angkatan III yang digelar di Surabaya pada 6–9 Mei 2026. Program tersebut merupakan bagian dari upaya strategis Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam memperkuat edukasi remaja, khususnya terkait kesiapan kehidupan berkeluarga dan pencegahan perkawinan anak.
Keikutsertaan kader Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur dalam program nasional tersebut menjadi bukti bahwa organisasi perempuan muda Muhammadiyah terus mengambil peran aktif dalam menjawab persoalan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Program BRUS sendiri merupakan salah satu program unggulan Kementerian Agama RI yang berada di bawah payung Program Pusaka Sakinah. Program ini dirancang sebagai sarana pembinaan remaja usia sekolah agar memiliki kesiapan mental, spiritual, sosial, dan emosional sebelum memasuki kehidupan rumah tangga di masa depan.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang hanya menempatkan remaja sebagai penerima materi, BRUS menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran aktif. Para fasilitator dibekali metode pendampingan yang komunikatif, partisipatif, dan sesuai dengan karakter generasi muda masa kini.
Dalam pelatihan tersebut, para fasilitator mendapatkan penguatan berbagai materi penting terkait pengembangan kecakapan hidup atau life skills bagi remaja. Materi tersebut mencakup kemampuan mengelola emosi, membangun konsep diri yang sehat, meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan, hingga penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai berbagai ancaman sosial yang saat ini banyak menyasar generasi muda. Mulai dari bahaya perkawinan anak, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga maraknya perjudian daring yang semakin mudah diakses melalui perangkat digital.
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Hj. Lubenah, saat membuka kegiatan tersebut menekankan pentingnya pembinaan karakter remaja sejak dini. Menurutnya, upaya membangun keluarga sakinah tidak cukup dilakukan ketika seseorang sudah menikah, tetapi harus dipersiapkan jauh sebelum memasuki usia pernikahan.
Ia menegaskan bahwa remaja membutuhkan pendampingan yang tepat agar mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Karena itu, keberadaan fasilitator BRUS diharapkan dapat menjadi jembatan edukasi sekaligus ruang konsultasi yang ramah bagi para remaja.
Bimtek Fasilitator BRUS Angkatan III di Surabaya diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari penyuluh agama, penghulu, aktivis organisasi masyarakat, hingga tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat.
Di tengah banyaknya peserta tersebut, Erfin Walida Rahmania dan Sa’idah Fiddaroini menjadi dua kader perempuan muda Muhammadiyah yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan dan memperoleh sertifikasi resmi sebagai fasilitator.
Capaian ini tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga membawa nama baik Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur sebagai organisasi kader yang konsisten dalam penguatan dakwah berbasis pemberdayaan perempuan dan generasi muda.
Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di kalangan perempuan muda, Nasyiatul Aisyiyah selama ini dikenal aktif dalam berbagai program pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial. Keterlibatan kader-kadernya dalam program BRUS semakin memperkuat posisi NA sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan karakter generasi muda.
Dengan bekal sertifikasi tersebut, kedua kader PWNA Jawa Timur diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh kepada para remaja di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Kehadiran fasilitator BRUS juga diharapkan mampu memperluas ruang edukasi tentang pentingnya kesiapan mental dan spiritual sebelum menikah.
Fenomena meningkatnya angka perkawinan anak di sejumlah daerah menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam. Perkawinan usia anak dinilai memiliki dampak panjang terhadap kualitas pendidikan, kesehatan reproduksi, kondisi ekonomi keluarga, hingga kesejahteraan sosial.
Karena itu, pendekatan preventif melalui edukasi remaja dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka perkawinan anak sekaligus membangun generasi muda yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga membawa tantangan baru bagi remaja. Paparan konten negatif, budaya instan, hingga maraknya judi online menjadi ancaman nyata yang membutuhkan pendampingan serius dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
Melalui program seperti BRUS, pemerintah berupaya menghadirkan pola pembinaan yang lebih dekat dengan kebutuhan remaja masa kini. Pendekatan dialogis dan berbasis pengalaman menjadi salah satu metode yang dinilai efektif untuk membangun kesadaran remaja dalam mengambil keputusan hidup secara bijak.
PWNA Jawa Timur menyambut positif kesempatan yang diberikan kepada kadernya untuk mengikuti program tersebut. Keikutsertaan kader NA dalam forum nasional semacam ini juga menjadi bagian dari ikhtiar memperluas kontribusi organisasi dalam membangun masyarakat yang berkemajuan.
Ke depan, keberadaan fasilitator BRUS dari kalangan Nasyiatul Aisyiyah diharapkan dapat memperkuat sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah dalam pembinaan generasi muda Islam yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Dengan semangat dakwah yang mencerahkan, dua kader PWNA Jawa Timur tersebut kini mengemban amanah baru sebagai fasilitator yang akan terlibat langsung dalam pembinaan remaja usia sekolah. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa perempuan muda Muhammadiyah terus hadir di garis depan dalam upaya membangun masa depan generasi bangsa yang lebih baik.
Hervina Emzulia
