![]() |
| Ilustrasi |
nasyiahjatim.or.id—Awal Mei selalu menghadirkan dua momen penting: Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional.
Kita sering membicarakannya sebagai dua hal besar tentang pekerja dan tentang pendidikan. Tapi ada satu perspektif yang sering tertinggal di tengah perayaan itu yaitu realitas perempuan. Jika kita menelusuri perjalanan dari ruang kelas ke dunia kerja, perempuan adalah salah satu kelompok yang paling merasakan jarak antara harapan dan kenyataan.
Di ruang kelas, hari ini, perempuan memiliki peluang yang semakin terbuka. Banyak perempuan berprestasi, bahkan mendominasi di beberapa bidang pendidikan. Semangat yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara tentang hak belajar untuk semua, perlahan mulai terasa hasilnya. Perempuan tidak lagi sekadar “boleh sekolah”, tetapi juga didorong untuk berprestasi.
Sayangnya, cerita sering berubah saat mereka melangkah ke dunia kerja. Di momen Hari Buruh, kita berbicara tentang upah layak dan kesempatan kerja. Tapi bagi banyak perempuan, perjuangannya berlapis. Bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, kesetaraan upah, kesempatan promosi, tapi juga keamanan dan kenyamanan di tempat kerja.
Belum lagi beban ganda antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab domestik yang masih lekat secara sosial. Di sinilah ironi itu muncul. Pendidikan membuka pintu selebar-lebarnya bagi perempuan, tetapi dunia kerja belum sepenuhnya menyediakan ruang yang setara. Perempuan didorong untuk maju, tapi masih sering dihadapkan pada batasan-batasan yang tidak terlihat namun nyata.
Lebih jauh lagi, realitas ini juga berkaitan dengan bagaimana sistem pendidikan mempersiapkan perempuan. Apakah pendidikan hanya mendorong perempuan untuk “berhasil secara akademik”? Atau juga membekali mereka dengan keberanian, kepercayaan diri, dan kesadaran akan hak-haknya di dunia kerja? Pertanyaan ini penting, karena perjalanan perempuan tidak berhenti di kelulusan.
Justru tantangan terbesarnya sering dimulai setelah itu. Di sisi lain, kita juga perlu melihat bagaimana peran perempuan dalam dunia pendidikan itu sendiri sebagai pendidik. Banyak perempuan memilih profesi ini begitu pula profesi ini seringkali hanya percaya kepada perempuan, bukan hanya karena panggilan, tetapi juga karena dianggap “lebih fleksibel” secara sosial.
Namun ironisnya, profesi pendidik sendiri sering kali belum mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang layak. Artinya, perempuan tidak hanya menghadapi ketimpangan sebagai pekerja di berbagai sektor, tetapi juga dalam profesi yang justru menjadi fondasi pendidikan itu sendiri. Ketika kita menghubungkan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional dengan cerita perempuan hari ini, kita jadi melihat gambaran yang lebih utuh: perjuangan belum selesai.
Pendidikan memang sudah membuka jalan, tetapi dunia kerja masih perlu banyak dibenahi agar benar-benar inklusif dan adil. Apakah perempuan benar-benar sudah mendapatkan ruang yang sama, dari bangku sekolah hingga meja kerja? Karena pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak perempuan yang berpendidikan, tetapi juga seberapa adil mereka diperlakukan setelahnya. Ini bukan soal letak gerbong kereta perempuan ditempatkan, namun apakah mereka benar-benar diberi kendali atas arah perjalanan, atau hanya diminta duduk manis sambil menikmati ilusi kesetaraan.
Nur Afni Rachman
