Nasyiah Jawa Timur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Inovasi Digital

Prof. Ida Zuhro saat menyampaikan materi pada Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan PWNA Jawa Timur

nasyiahjatim.or.id—Upaya meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan di Jawa Timur terus digencarkan. Melalui kegiatan bertajuk Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan, Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur menghadirkan forum edukatif dan kolaboratif yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (26/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pimpinan daerah Nasyiatul Aisyiyah se-Jawa Timur. Hal tersebut menunjukkan komitmen kuat organisasi dalam mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis kewirausahaan. Kehadiran para pimpinan daerah sekaligus menjadi momentum konsolidasi gerakan untuk memperkuat peran UMKM perempuan di berbagai wilayah.

Acara ini dirancang sebagai wadah penguatan kapasitas pelaku UMKM perempuan, khususnya dalam menghadapi tantangan transformasi digital yang semakin kompetitif. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama yang membahas aspek krusial dalam pengembangan usaha, mulai dari akses pendanaan hingga strategi pemasaran digital.

Pada sesi pertama yang mengusung tema Sosialisasi Kerja Sama Mitra tentang Pendanaan, peserta mendapatkan pemaparan mengenai peluang kolaborasi dan akses pembiayaan usaha. Sesi ini menghadirkan Aris Kurnis Wicaksono, S.Sn., M.Ds., dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Muhammadiyah Surabaya, serta Mohammad Nor Rohman selaku BSI Area Mikro dan Pawning Manager Surabaya Raya.

Dalam paparannya, Aris Kurnis Wicaksono menekankan pentingnya kesiapan pelaku UMKM dalam mengelola aspek branding dan nilai produk sebagai bagian dari daya tarik bagi konsumen. “UMKM perempuan harus mampu menampilkan identitas usaha yang kuat dan profesional. Ini bukan hanya soal produk, tetapi juga bagaimana usaha tersebut dikemas dan dipresentasikan secara meyakinkan,” ujarnya.

Sementara itu, Mohammad Nor Rohman menjelaskan berbagai skema pembiayaan yang dapat diakses oleh UMKM, khususnya yang berbasis syariah. Ia juga menyoroti pentingnya literasi keuangan bagi pelaku usaha. “Akses permodalan kini semakin terbuka, namun perlu diimbangi dengan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik agar usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan,” jelasnya.

Memasuki sesi kedua, pembahasan berfokus pada strategi digital marketing sebagai kunci utama dalam meningkatkan daya saing UMKM di era digital. Sesi ini menghadirkan Ida Zuhro, Komisaris Utama BPRS Asa Sejahtera, serta Arum Martikasari, dosen Universitas Muhammadiyah Malang.

Prof. Ida dalam materinya menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi UMKM. “Pelaku usaha perempuan harus berani beradaptasi dengan teknologi digital. Dengan strategi pemasaran yang tepat, UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan platform digital harus diiringi dengan pemahaman terhadap perilaku konsumen agar strategi yang dijalankan lebih efektif dan tepat sasaran.

Sementara itu, Arum Martikasari menggarisbawahi pentingnya konten kreatif dan komunikasi digital yang relevan dengan target pasar. Menurutnya, kekuatan storytelling menjadi salah satu faktor penting dalam menarik minat konsumen. “Di era digital, produk yang memiliki cerita dan nilai yang kuat cenderung lebih mudah diterima. Oleh karena itu, UMKM perlu membangun narasi yang autentik dan konsisten,” jelasnya.

Kegiatan Sisterpreneur ini mendapat antusiasme tinggi dari para peserta yang terdiri atas pelaku UMKM perempuan dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Selain memperoleh wawasan baru, peserta juga berkesempatan membangun jejaring serta membuka peluang kolaborasi antarpelaku usaha.

Melalui kegiatan ini, PWNA Jawa Timur berharap dapat menciptakan ekosistem UMKM perempuan yang lebih kuat, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan dukungan akses pendanaan serta penguasaan strategi pemasaran digital, UMKM perempuan diharapkan mampu meningkatkan daya saingnya, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Ke depan, program Sisterpreneur direncanakan akan terus dikembangkan sebagai bagian dari komitmen organisasi dalam memberdayakan perempuan melalui jalur kewirausahaan. Program ini menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi UMKM perempuan menuju era ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

Maharina Novia Zahro